Spiritualisme

Spiritualisme ~ Secara harfiah, kata spiritualisme memiliki arti “aliran filsafat yang mementingkan kerohanian” (KUBI. 1976.963). Sementara, dalam keseharian, kata yang satu ini seolah ingin dicecap oleh seluruh orang yang menghuni kota-kota besar akibat tekanan kehidupan yang kian hari kian bertambah berat.

Tidak ada yang bisa menampik belakangan ini ketenangan memang merupakan barang yang langka. Hampir tiap saat, masyarakat selalu saja disuguhi dengan berbagai berita tentang kekerasan, sampai dengan ketimpangan sosial. Sudah barang tentu, keadaan ini banyak membuat orang menjadi miris.

Jika, seseorang mau berpegang pada Mulat Sarira yang lengkapnya atau seutuhnya berbunyi Mulat Sarira-satunggal atau Mulat Sarira-sejati yang mengandung makna Mulat Sari Rasa Tunggal atau Mulat Sari Rasa Jati, yang ecara filsafat jawa bermakna setubuh Senyawa Kosmis yang dalam bahasa Indonesia memiliki padanan Mawas Diri (Damardjati Supadjar 2003: 62), maka kedua hal berikut sejatinya bisa terwujud :

  1. Dalam setiap situasi, manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak sampai menimbulkan konflik.
  2. Dalam berbicara dan membawa diri agar selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya.
Dengan mawas diri maka kearifan dan ketenangan hati bakal didapat oleh seseorang, sesuai dengan yang dituliskan oleh Inayat Khan (dalam Azhari Noer. 2002: 36); kearifan (wisdom, hikmah), tidak hanya dimiliki oleh satu agama atau ras tertentu, tetapi untuk semua agama dan ras.

Dengan berpegang pada ketiga pandangan tersebut di atas, maka spiritualisme hanya bisa didapatkan atau dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar mampu mengenal dirinya sendiri, ketika ia mencapai pengalaman atau penghayatan aktual. Selaras dengan itu, maka keagungan Sang Maha Pencipta berupa kebersamaan diantara perbedaan pun dapat terasakan begitu indah.

Itulah Memayu Hayuning Bawana, terciptanya kedamaian dan keindahan dunia.(sumber: majalah investigasi supranatural – Misteri Edisi 513).